Membaca Ciri-Ciri Anggota Jamaah Ansharut Daulah

Selasa, 30 Maret 2021 10:45 WIB

Share
Membaca Ciri-Ciri Anggota Jamaah Ansharut Daulah

Oleh: Ruslan Sangadji (Pemimpin Redaksi Pos Kota Sulteng)  

JAMAAH ANSHARUT DAULAH (JAD) kembali menjadi perbincangan hangat banyak kalangan, setelah aksi bom bunuh di gerbang Gereja Katedral, Makassar, Ahad 28 Maret 2021. Kelompok itu dibicarakan, karena pelakunya yang pasangan suami istri, yang ditengarai berasal dari kelompok tersebut.

JAD, adalah pecahan dari Jamaah Islamiyah (JI). JAD bergabung atau berafiliasi dengan ISIS yang dipimpin Abu Bakar Al Baghdadi.

Rekrutmen anggota JAD ini, lebih banyak melalui media sosial, lalu kemudian mengembangkan diri dan beraksi di Indonesia. Lantaran itu, pola kaderisasi JAD juga lebih longgar. Mereka bebas keluar masuk.  

Berbeda dengan JI yang memiliki pola serangan yang lebih terstruktur, JAD justru menerapkan pola serangan secara acak, lebih berskala kecil, dampaknya juga kurang terukur, lebih menyasar publikasi media sebagai efeknya. Maka, JAD itu lebih banyak beraksi secara sendiri dalam kelompok kecil. Gerakan mereka sangat cair dibanding JI.

Di JAD, tidak peduli siapa yang akan beraksi. Bisa laki-laki, perempuan, anak-anak, pasangan suami istri atau juga anggota keluarga (ayah, ibu dan anak). Sasarannya pada masyarakat sipil dan polisi. Tetapi JI, hanya laki-laki dewasa saja yang boleh beraksi.

Anggota JAD ini, nyaris tidak pernah latihan di lapangan seperti JI yang berlatih di Afganistan, Philipina dan di beberapa tempat lainnya.

Proses mencuci otak anggota JAD, lebih banyak hanya melalui media sosial. Doktrin JAD itu sangat jelas, menanamkan ideologi takfiri. Ideologi yang menanamkan bahwa semua yang bukan berasal dari Tuhan, adalah haram dan siapa pun yang menjalankan ajaran di luar itu,   adalah kafir yang wajib diperangi.

Maka tak heran, anggota JAD ini lebih banyak beraksi dengan menyasar tempat keramaian atau kumpulan dengan menggunakan bahan peledak berskala kecil. Bom yang digunakan juga rakitan seperti bom panci, bom tupperware atau sejenisnya, yang mereka pelajari dari media sosial.

Berbahayakah kelompok JAD ini? Iya sangat berbahaya. Karena proses rekrutmen masih terus berjalan melalui media sosial. Itu artinya, paham radikal yang berujung pada terorisme di Indonesia belum dapat dicegah. Semua kita perlu waspada, aparat keamanan juga tidak boleh lengah. Terlebih lagi aturan perundang-undangan kita juga harus lebih tegas. *

Reporter: Admin Sulteng
Editor: Admin Local
Sumber: -
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar