Ini Jalan Cerita Perampasan Alat Kerja Wartawan TVOne di Banggai

Kamis, 18 November 2021 21:43 WIB

Share
Ini Jalan Cerita Perampasan Alat Kerja Wartawan TVOne di Banggai
MENGADU - Wartawan TVOne, Andi Baso saat mengadukan perampasan alat kerja oleh anggota Polisi berinisal Brigpol H (Foto: Emay Liana Rumayar)

PALU, POSKOTA SULTENG - Alat kerja dan video dokumentasi wartawan TVOne, Andi Baso Hery, dirampas dan  dihapus oleh anggota Polisi bernama Brigadir Hermi, Kamis 18 November 2021. 

Peristiwa ini terjadi saat Andi Baso Hery melakukan peliputan kunjungan Kapolda Sulteng, Irjen Polisi Rudy Sufahriadi di Mapolres Banggai, Sulawesi Tengah. 

Berikut kronologis peristiwa yang dialami oleh wartawan TVOne tersebut. 

Sebelum Kapolda Sulteng memberikan arahan kepada personel Polres Banggai, jurnalis TVOne, Andi Baso Hery, mengambil gambar di Aula Mapolres Banggai. Setelah itu Jurnalis disuruh keluar ruangan karena arahan internal akan dimulai. 

Saat berada di luar ruangan, anggota polisi bernama Brigadr Hermi menyusul jurnalis TVOne tersebut, kemudian meminta jurnalis itu menghapus seluruh gambar dokumentasi dari handphone. 

Namun Polisi tersebut tidak yakin, Meski gambar dokumentasi telah dihapus oleh wartawan TVOne itu. Polisi itu lalu merampas handphone dan membentak-bentak Andi Baso secara berulang-ulang. 

Korban kemudian balik bertanya ke Polisi itu, ada apa dengan gambar tersebut. Namun pertanyaan itu tak digubris. 

Selanjutnya, Polisi tersebut terus mengintimidasi dengan suara keras “hapus, hapus, hapus” secara berulang kepada korban. 

Ketegangan antara jurnalis dan Brihadir Hermi berakhir, setelah ajudan Kapolda  melerai. 

Atas peristiwa itu, Ketua IJTI Sulteng, Rahman Odi, menilai, tindakan intimidasi, perampasan alat kerja, hingga penghapusan paksa video liputan, menciderai semangat kemerdakaan Pers sekaligus merendahkan profesi Jurnalis yang dilindungi Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Pasal 18 ayat 1, dipenjara paling lama dua tahun atau denda Rp500 juta, karena menghalang-halangi kerja wartawan.
 
"Kami sangat menyangkan masih ada oknum polisi yang berlagak seperti preman. Tindakan merampas alat kerja jurnalis, apalagi sampai menghapus karya jurnalistik adalah bentuk pelanggaran hukum nyata terhadap undang-undang Pers," ungkap Rahman Odi. (Rendy)

Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
0 Komentar